Baituzzakah Pertamina, Beasiswa BAZMA 2016, Scholarship Baituzzakah Pertamina
Kepergian Bapak yang Memberi Arti Hidup
Penulisan Essay yang bertemakan “Inilah Saya Bagi Keluarga” ini bermaksud untuk memenuhi salah satu syarat beasiswa Baituzzakah Pertamina (BAZMA) tahun 2016. Saya awali essay ini dengan pengenalan diri. Nama saya "NURUL ISTIQOMAH TIHARTINI" lahir di Purworejo tepatnya pada tanggal 05 April 1996 . Saya adalah anak pertama dari 3 besaudara. Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Untuk saat ini, saya menimba ilmu di bangku kuliah yaitu Universitas Negeri Jakarta.
Riwayat pendidikan saya dimulai dari TK Dian Pelangi dilanjutkan ke SDN Pulogebang 01 Pagi, kemudian dilanjutkan ke SMPN 172 Jakarta dan setelah lulus, melanjutkan kembali sekolah di SMKN 48 Jakarta. dan sekarang saya menempuh bangku perkuliahan di Universitas Negeri Jakarta dengan mengambil jurusan S1 Ekonomi & Administrasi dengan konsentrasi pada Administrasi Perkantoran. Tahun Ini adalah tahun ketiga saya sebagai mahasiswi Universitas Negeri Jakarta tepatnya berada pada semester 5
Pengalaman organisasi yang saya ikuti bermula dari pengurus Rohis SMPN 172 Jakarta, setelah itu di bangku SMK, organisasi yang saya ikuti adalah Palapa Badminton. Kemudian sama halnya di Universitas Negeri Jakarta pun saya mengkuti kegiatan Badminton Fakultas Ekonomi. Dari pengalaman organisasi tersebut berbagai pembelajaran telah saya dapatkan, diantaranya berupa tanggung jawab serta bagaimana untuk mengatur waktu dengan sebaik mungkin. Selain dalam pengalaman berorganisasi, saya juga pernah mengikuti perlombaan yang diadakan pada waktu saya menduduki bangku SD, SMP, SMK hingga Universitas Negeri Jakarta, diantaranya adalah Juara Harapan II Marching Band (SD), Juara III MTQ, Juara II MTQ, Juara I Musabaqoh Hifdzil Qur’an tingkat DKI Jakarta dan beberapa waktu yang lalu saya menjadi 15 finalist dari “Citra Bakat Natural” .
Bagi saya, kesuksesan bisa saya raih ketika ridho serta do’a yang tulus dari kedua orang tua saya. Selain itu, tanpa adanya motivasi mungkin saya tidak akan bisa meraih semua yang saya inginkan. Saya selalu berusaha menanamkan pola pikir bahwa semua usaha yang saya lakukan adalah untuk kebahagiaan kedua orang tua saya. Terutama selama kedua orang tua saya masih dalam keadaan sehat wal’afiat serta diberikan umur panjang hingga saya bisa membahagiakan mereka. Hingga akhirnya takdir berkata lain.
Ketika saya masih berada di bangku SMK kelas VIII, Allah memanggil bapak untuk kembali ke sisiNya dan pada saat itu ibu dalam kondisi tidak sehat hingga akhirnya harus menjalani pengobatan di Jawa Tengah. Saat itulah kehidupan yang sesungguhnya dapat saya rasakan. Disaat saya harus melakukan sendiri semua pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kedua orang tua dan tanpa adanya bantuan dari siapapun.
Pada awalnya, saya menganggap hal tersebut sangat berat untuk dijalani, yaitu hal yang tidak biasa saya lakukan. Tapi saya berkeyakinan bahwa Allah tidak akan menguji hambaNya melebihi batas kemampuannya. Jadi, saya bisa pastikan bahwa saya mampu melewati ujian yang Allah berikan.Kemudian saya berpikir bagaimana cara agar saya bisa melanjutkan keinginan untuk dapat berkuliah di Universitas Negeri Jakarta. Hingga akhirnya saya berhasil lolos sebagai mahasiswi Universitas Negeri Jakarta dengan Prodi Pendidikan ekonomi, Fakultas Ekonomi, karena saya percaya bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil dan selama kita berusaha yang terbaik serta mengiringi usaha tersebut dengan do’a, Allah pasti akan memberikan jalan atau kemudahan agar kita bisa mencapainya. Seperti pepatah mengatakan Where’s a will there’s away : Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.
Selanjutnya saya berusaha untuk mencari pekerjaan agar saya bisa mendapatkan penghasilan. Hingga akhirnya saya menjadi guru les privat dan bisa merasakan langsung bagaimana berada di posisi bapak yang kini sudah tidak ada dan pada saat itu berjuang mencari nafkah untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga. Sejak itu, karakteristik saya pun kian mengalami perubahan. Jika awalnya saya adalah anak yang pemalu dan tidak berani untuk mengahadapi orang lain dimuka umum, maka saat ini saya sudah berani menghadapi hal tersebut dan inilah hikmah dari apa yang telah terjadi. Saya menjadi anak yang lebih mandiri.
Inilah saya bagi keluarga dengan peranan baru, yaitu sebagai anak dan tulang punggung keluarga. Saya mengerti betul bahwa kebahagiaan ibu, adik-adik serta kelangsungan hidup mereka terletak di punggung saya dimana saya harus berjuang penuh untuk mewujudkan hal tersebut. Untuk itulah, saya mencoba mengikutsertakan diri saya pada kesempatan beasiswa yang diberikan oleh Baituzzakah Pertamina (BAZMA). Semoga saya bisa terus meningkatkan prestasi kedepannya.
Demikian essay ini saya tulis dengan sebenarnya. Terimakasih.
Komentar
Posting Komentar